Selasa, 21 Mei 2019

Konten Kreatif Menciptakan Perdamaian Toleransi Dalam Bermedia Sosial


Indonesia kaya akan keberagaman mulai dari sosial, budaya dan politik. Keberagaman ini yang menjadikan kita banyak perbedaan. Yang mengakibatkan bumbu persaudaraan kita kian hari makin berselisih paham. Tapi kenapa kita harus terbuai dengan perbedaan yang hanya bersifat sementara.



Negara kita baru saja melaksanakan pesta demokrasi cukup meriah. Dalam pemilihan umum tersebut kita sekaligus memilih pemimpin negara kita mulai Presiden, calon legislatif pusat maupun daerah. Tentu kita memilihnya dengan hati nurani tanpa ujaran paksaan dan atas indikasi apapun.


Tanpa kita sadari, pesta rakyat seharusnya memberikan kebahagiaan mutlak bagi masyarakat. Tidak semudah itu persatuan, kesatuan dan toleransi yang sudah kita bangun dengan susah payah hancur karena perbedaan. 




Memang benar setiap kompetisi ada dua sisi yang dihasilkan menang dan kalah. Tergantung kita bagaimana menyikapi dan menerima apa yang menjadi keputusannya. Tapi kita juga harus bisa menahan diri untuk tidak menciptakan perpecahan. Apalagi menyebarkan konten hoax di media sosial.


Sungguh pembelajaran luar biasa bagi saya hari ini untuk tetap menahan diri akan apa yang terjadi di media sosial. Hari ini saya sedang mengikuti "Workshop Produksi dan Diseminasi" yang diselenggarakan oleh Hankam dan Kemkominfo diadakan di Perpustakaan Terapung Universitas Indonesia. Bagaimana memproduksi konten kreatif di era milenial yang maraknya terjadi radikalisme.



Sebelum berangkat, tadi pagi saya menikmati tayangan televisi akan pengumuman pemimpin negara untuk 5 tahun kedepan. Menurut saya, siapapun pemimpin yang akan datang kita harus tetap mendukung dan mengamati proses kinerjanya. Kita tidak bisa mengatakan "beliau bukan pemimpin yang saya pilih atau beliau tidak cocok sebagai pemimpin pilihan hati saya dan lain sebagainya". Semua ini terjadi dari kita, oleh kita dan untuk kita. 


Sempat terbersit dalam ingatan saya bahwa untuk tidak follow atau mengikuti perpecahan yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat hari ini. Khususnya di media sosial. Banyak sekali perpecahan dan perselisihan yang berseliweran diberbagai media sosial. Yang saling menghujat sahut menyahut satu sama lain. Tidak menerima apa itu menang apa itu kekalahan. Sudah tidak memandang rasa persaudaraan dan mengesampingkan rasa persatuan. 


Perbedaan sudah menjadi lambang psikologis rakyat Indonesia. Merasa bersyukur hari ini diingatkan oleh narasumber workshop menjadi penyebar positif dalam sebuah perbedaan. Menahan diri saat banyak perbedaan yang terjadi. Tetap menjadi pendamai dalam sebuah perpecahan.



Khususnya bagi saya sebagai generasi milenial untuk bijak dalam membuat konten. Kebayangkan akibatnya hanya dengan segelintir caption konten kita bisa mengguncang dunia media sosial. 


Nah, maka dari itu mari kita menjadi generasi pemersatu bangsa. Seperti semangat saya dan teman-teman mengikuti workshop Konten Kreatif menjadi modal menghalau perpecahan. Kalau bukan dimulai dari diri sendiri dan sekarang ini, kapan lagi coba!

Tidak ada komentar:

Kesetaraan Gender Memacu Perempuan Berdaya Di Era Digital Menciptakan Kemerdekaan Ekonomi Keluarga

Pahlawan dalam keluarga penuh dengan rasa cinta kasih sayang terbesarnya adalah seorang Ibu. Waktu sedetik pun sangat berharga bagi bel...