Sabtu, 26 Mei 2018

Perjalanan Iman Dalam Film Corpus Christi


Pengalaman dan perjalanan hidup bisa dibuatkan dalam sebuah film dokumenter. Baik itu tentang perjalanan rohani secara iman kepada Tuhan. Film dokumenter Corpus Christi adalah film yang menceritakan perjalanan iman oleh Bapak Teguh Ostenrik seorang artistik, seniman yang berkarya melalui patung, lukisan dan juga seni musik. 

Bapak Teguh Ostentrik seorang seniman dengan beberapa patung buatannya


Melalui film dokumenter ini, Bapak Teguh mencurahkan semua perjalanannya dalam film berdurasi 48 menit dengan nilai artistik tinggi. Film Corpus Christi yang di produksi Bapak Kafi Kurnia masih dalam tahap finishing. Bapak Kafi mengharapkan film ini dapat mencapai durasi 60 menit setelah proses finishing dan rencananya akan disebarkan keseluruh jemaat. 

Bapak Kafi Kurnia Direktur Produser dalam Film Dokumenter Corpus Christi


Berbicara tentang perjalanan iman tentu banyak mengalami perjumpaan-perjumpaan dengan Tuhan sang pencipta. Baik itu melalui perasaan, penglihatan bahkan menghampiri dalam mimpi. Tetapi dalam film dokumenter Corpus Christi, Bapak Teguh membuat dan membentuk patung Tuhan Yesus dengan penuh intuisi, serius dan penjiwaan. Namun setelah menonton film sampai akhir saya tidak menemukan pertemuan beliau dengan Sang Pencipta. Sehingga saya sebagai penonton tidak menemukan value pertumbuhan iman.


Sehingga saya menyarankan kepada beliau, jika memang ada moment perjumpaan dalam membuat patung Tuhan Yesus seharusnya dimasukkan dalam film. Dan bagaimana perasaan serta mata batin saat mulai merancang, pembuatan sampai finishing patung tersebut. Karena dengan demikian penonton akan merasakan dan ingin sekali memiliki perjumpaan dengan Tuhan. Dimana pemeran utama dalam film adalah beliau.


Seperti kita sedang berada dalam sebuah tempat yang konon misterius. Pada saat itu kita hanya merasakan merinding dan ketakutan. Tetapi berbeda secara mentalitas ketika kita melihat dan membuat patung Tuhan dengan persis seperti tersalib pasti jasmani dan rohani menangis. Mengingat penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib di Bukit Golgota membayar dan menebus dosa kita dengan nyawa-Nya yang mulia.


Film dokumenter Corpus Christi rangkaian monolog dari beberapa orang yang terlibat dengan pembangunan patung Kristus dan Bunda Maria yang dibuatnya untuk Gereja Katolik St. Mary of Angels Singapura. Keseluruhan dari film ini sudah bagus dipadupadankan dngan musik instrument dan musik tradisional gending dengan menampilkan beragam seni dengan perjalanan kontemplasi alur ceritanya. 

Bapak Teguh Ostenrik dengan penulis


Bapak Teguh Ostenrik mengisahkan dirinya dengan sebuah pertanyaan yang belum dapat dipecahkan akibat dari keberadaan diri dan keimanannya seorang atheis.  "Siapa yang akan kutunggu?". Sebuah jawaban yang ditunggu oleh finishing film ini dan menjadi pertanyaan juga akan perjalanan iman saya nantinya.


Faktor kebiasan membuat Bapak Teguh untuk menerima penawaran dari Bapak Kafi untuk membuat patung Yesus Kristus yang terbuat dari rongsokan besi. Tubuh Kristus yang selama bertahun tahun divisualisasikan dengan gaya humanis sempurna. Tetapi pada film ini sangat jauh berbeda diciptakan oleh seniman berdarah Jawa ini malah ditampilkan dalam kerapuhan yang magis dan sakral. Kerapuhan yang menyatukan derita dan kebangkitan Kristus dalam sebuah kesatuan yang baru. 


Namun sebelumnya, Bapak Teguh sudah pernah membuat patung Yesus Kristus di gereja Yohanes Maria Vianney di Cilangkap. Dalam film digambarkan bagaimana proses desain dilakukan mulai dari goresan pensil hingga akhirnya patung tersebut dibawa dalam truk dan dipasang di gereja tersebut. Selain itu terdapat juga berbagai patung Yesus Kristus dan Bunda Maria di Bukit Doa Mahawu Manado serta jalan salib sepanjang satu kilometer dengan 14 stasi perjalanan Kristus ke Bukit Golgota seturut dengan Alkitab Suci.

Pastor Th. Aq. M. Rochadi Widagdo. Pr

Pastor Th. Aq. M. Rochadi Widagdo. Pr, mengatakan karya Bapak Teguh dalam film dokumenter Corpus Christi sangat menyentuh akan pengorbanan Yesus. Bahwa ibadah yang komunal seyogyanya tetap memiliki aspek privat yang penuh emosi yang mengelitik. Baik halnya juga disampaikan John-Paul Tan, OFM, JCL Chancellor of Roman Catholic of Archdiocese of Singapore mengatakan patung Yesus yang akan dibangun di untuk Gereja Katolik St. Mary of Angels Singapura akan menjadi momen dan waktu mengetuk pintu hati kita untuk mengingat Yesus, mengikuti semua kebaikannya dan melakukan perintahnya.


Saya masih sangat penasaran dengan parung-patung yang dibangun oleh Bapak Teguh. Dengan harapan bisa melihat karya beliau serta finishing film dokumenter Corpus Christi. Apakah pertanyaan beliau terjawab pada finishing film ini dengan penuh keimanan. Bagi setiap jemaat pasti akan tersentuh dan menangis mengingat pengorbanan dan penderitaan Yesus Kristus melalui keimanan.


Film dokumenter Corpus Christi sangat keren dan menginspirasi sekali dalam pertumbuhan iman kepada Yesus Kristus.

Penulis dengan Bapak Kafi Kurnia

Posting Komentar

Pentingnya Hidup Sehat Berkualitas Dengan Air Purifier Panasonic Ciptakan Udara Bersih Bagi Kesehatan Keluarga

Hidup hiruk pikuk dikota metropolitan yang super macet dan tingkat polusi udaranya tinggi. Membuat keseharian beraktivitas aku semakin ti...